ini adalah blog tentang tambal dan tambalers

Sabtu, 23 Juni 2012

Love and Friendship (part 1)

    Aku terdiam disebuah bangku taman, disebelahku terlihat sahabatku Nanda sedang memainkan handphonenya. Kami berdua kebosanan, sungguh. saat ini sudah hampir satu jam kami menunggu Lucas-sahabat kami berdua- di taman ini. Kemarin ia berjanji akan mengajak kami ke sebuah tempat yang istimewa. Awalnya aku menolak, namun rengekan Nanda memaksaku untuk ikut.
    Lucas, satu-satunya laki-laki di lingkarang prsahabatan kami bertiga, dia yang selama ini selalu melindungi kami dari teman laki-laki kami yang iseng. Aku sendiri menganggapnya sebagai kakak, teman, dan adik dalam berbagai waktu. Lucas, dia termasuk orang yang populer di sekolah kami. Gayanya yang acuh dan terkesan seenaknya membuat orang lain menganggapnya keren, dan wajahnya yang memang di atas rata-rata menambah nilai plus untuk daya tarik Lucas. Aku akui, Lucas memang tipe pria yang bisa membuat orang lain mudah jatuh cinta, kecuali aku. Dalam 6 tahun kebersamaan kami sebagai sahabat, tak pernah sekalipun aku menganggap dia seseorang yang patut ku pertimbangkan untuk menjadi seorang kekasih atau sejenisnya. Aku hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat dekat, tak lebih. Setidaknya, itu yang saat ini aku yakini.
    Nanda menoleh ke arahku, lalu menunjuk ke depan dengan dagunya. Aku mengarahkan pandanganku ke arah depan, disana terlihat Lucas tengah berjalan-sebenarnya sih setengah berlari- ke arah kami. Begitu sampai di depan kami, dia tersenyum tanpa dosa. Menyebalkan sekali. Baru saja akan ku ceramahi si pangeran jam karet ini, Nanda sudah mendahuluiku terlebih dulu.
"Ayo kita pergi, hari sudah semakin sore. Aku ga mau terlambat pulang." Ujarnya. Lucas hanya memberikan cengirnnya kepadaku yang sedari tadi memelototinya.
"Terus saja bela." rutukku kesal, pasalnya ini sudah ke seribu kali Lucas terlambat dari janji yang di tentukannya. dan sudah ke seribu kali pula Nanda membelanya, sebagai sahabat dan seorang perempuan, aku mempunyai insting bahwa, ada sesuatu antara Nanda dan Lucas.
    Tanpa memedulikan ucapanku mereka berdua berjalan mendahuluiku, Lucas berjalan di paling depan, Nanda dibelakangnya, dan aku tertinggal amat jauh dari mereka. Sebenarnya aku tahu kemana Lucas akan mengajak kami pergi sore ini, kupikir Nanda juga pasti tahu. Jadi aku berjalan santai saja, toh kalaupun ketinggalan, aku tahu jalan.
"Dea!! Makin hati kamu makin mirip nenekku, jalannya lambat!" Lucas berteriak padaku dari atas sana. Aku memutar bola mataku, kesal. Aku tak menghiraukannya, dan Lucas semakin menjadi, dia terus-menerus meneriakiku, berceloteh tentang aib-aibku selama ini. Aku berusaha menahan kesal dengan berpura-pura tidak mendengar semua ucapannya.
"Dan Dea itu gendut, jelek, pendek. Oh, dia juga pernah muntah di seragam anak laki-laki yang ia sukai ketika sd." Cukup. Aku tidak tahan lagi, rasanya ingin aku pukuli si prince charming di sekolahku ini.
"Hiyaaaaaaattttt!!!." aku berlari ke arahnya sambil melayangkan pukulan demi pukulan yang sayangnya dapat ia hindari begitu saja. Dibelakang kudengar Nanda terkikik sambil mempercepat langkahnya menyusul kami.
    Akhirnya kami sampai di tujuan, sebuah bukit hijau yang menyuguhkan pemandangan kota Bandung dibawa sana. Indah. Satu kata yang selalu aku gumamkan setiap menatap tempat ini. Apalagi ini senja, dimana langit selalu melukiskan gradasi-gradasi warna yang selalu kusukai.
    Aku menghempaskan diriku di atas rumput, menjadikannya alas tempatku duduk. Lucas langsung mengambil tempat disebelahku, ia membaringkan tubuhnya di atas hamparan rumput yang hijau. Aku menoleh ke arahnya, dia tersenyum memandangku. Dan aku membalasnya dengan sebuah senyuman lagi.
    Tak lama, Nanda sampai, di tangannya ia menggenggam sebuah handphone yang terus-menerus ia mainkan. "Nan, cepet sini duduk, jangan main hp aja dong." Ajaku sambil menepuk-nepuk rumput disebelahku, mengisyaratkannya untuk duduk disitu. Nanda menurut.
    Sekarang, kami bertiga memandang langit, menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajah kami, menikmati indahnya pemandangan kota yang terlihat seperti sebuah lukisan kehidupan. menikmati senja. Dan entah keberapa kali, aku menikmati indahnya sunset bersama mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar