Aku duduk di sebuah bangku di atap sekolah, saat ini adalah jam pulang sekolah. tapi rasanya hari ini aku malas sekali pulang ke rumah. Disebelahku Lucas berbaring menatap langit sambil mendengarkan musik lewat ipod yang dia bawa. Sedangkan Nanda, ia sedang mengikuti sebuah club pecinta mata pelajaran. Sungguh tipe murid teladan.
Aku menghela nafas, kemudian ikut membaringkan tubuh disebelah Lucas, ia menyodorkan salah satu earphonenya ke padaku. Aku menerimanya dengan senang hati. Ipod Lucas memainkan sebuah lagu beat yang kebetulan aku sukai. Aku mulai bernyanyi, mengikuti lagu yang sedang berputar. Disebelahku, Lucas juga mulai bernyanyi. Awalnya kami hanya bernyanyi bersama, lalu lama-kelamaan, kami ikut berteriak ketika penyanyi yang menyanyikan lagu itu berteriak. Dan akhirnya kami tertawa bersama.
Diantara persahabatan kami bertiga, Lucas memang lebih dekat denganku. Dia selalu terbuka dan menceritakan masalahnya kepadaku. Mungkin karena aku cuek dan memang selalu terbuka di hadapannya, berbeda dengan Nanda yang semakin menginjak remaja, dia semakin tertutup. Nanda umumnya seperti remaja lain, ia seringkali mementingkan penampilannya, tapi tak hanya itu. Well, dia lebih pintar dari aku.
Nanda seringkali hanya menceritakan masalahnya denganku, tanpa ada Lucas. Dan Lucas berlaku hal yang sama. Seringkali aku keheranan dengan tingkah mereka yang satu ini. Kami bersahabat kan? Bahkan dulu, mereka sempat berkata bahwa kita akan bertiga selamanya. Walaupun aku tak pernah percaya kata itu. Karena, bukankah di kehidupan nyata ini, kata 'selamanya' tidak pernah berlaku?
****
Saat ini aku sedang diam di kamar Nanda, tadi sepulang sekolah, dia tiba-tiba saja menarikku dan memaksaku untuk pulang ke rumahnya. Alasannya 'karena ada yang ingin dibicarakan.' ucapnya singkat.
Aku terduduk di kasur Nanda. Sedangkan ia sendiri malah terdiam menatap langit-langit kamarnya, seperti berfikir untuk mengungkapkan atau tidak. Lama sekali ia begitu, dan aku hanya menatapnya sebelum kesabaranku habis. Akhirnya aku bertanya padanya. "Kamu mau ngomongin apa sih Nan?" Dia terlonjak kaget. Lebay, batinku. "Em, anu De. Aku, eh AkusukasamaLucas de." ucapannya yang terakhir nyaris dikatakan tanpa jarak. Ia mengatakannya sangat cepat. "Kamu suka sama Lucas?" ulangku memastikan, entah kenapa, ada sebagian kecil dari diriku yang tak ingin hal itu terjadi. Aku tak mau Nanda menyukai Lucas. Aku kesal dan .... marah?. Dan anggukan Nanda membuatku benar-benar merasa sesak. Rasanya sangat kesal. Inginku guncangkan bahu Nanda sambil berkata bahwa .............aku juga menyukai Lucas.
****
Lucas memanggil-manggil namaku. Aku mendengarnya, tapi pura-pura tidak mendengar. Aku terus melanjutkan langkahku, tapi langkahku terhenti ketika sebuah tangan menarik tanganku hingga menyebabkan tubuhku berputar kebelakang. Lalu kulihat Lucas. Dia tersenyum sambil bergumam 'sorry'. Aku hanya diam tidak membalas senyumnya. "De, anterin ke BIP dong ntar pulang sekolah. Aku tlaktir deh nanti." Ingin sekali aku mengatakan 'ya' untuk ajakannya, tapi sekilas kulihat Nanda menatap kami dari ujung koridor, dan aku pun tersenyum. "Sorry Lu, aku gabisa kalo hari ini, kamu sama Nanda aja ya." ucapku sambil terus berlalu. Tak menghiraukan perkataannya lagi. Aku menghela nafas. Ada perasaan tak rela ketika mengatakannya tadi. Tapi kubulatkan tekadku lagi, aku harus rela, Nanda menyukai Lucas. Dan suatu saat mereka akan bersama. Jadi aku harus merelakannya. Karena kami tak bisa selamanya bertiga. Bukankah sudah kubilang, kata 'selamanya' tak berlaku di dunia nyata.
Akhir-akhir ini aku semakin sering menolak ajakan Lucas dan melimpahkan semuanya pada Nanda, aku juga sering mangkir dari janjian yang kami buat. Dan kulihat Nanda semakin dekat dengan Lucas. Aku tersenyum didepan kaca ketika membayangkan hal tersebut, namun yang kulihat dari pantulan bayanganku dicermin, bukan senyum tulus yang penuh kebehagian yang terlukis di wajahku. Namun senyum sayu, seperti penuh air mata.
Ketika berbalik, kulihat Lucas sedang menatapku. Aku balas menatapnya sambil tersenyum tulus-sebenarnya aku mencoba tersenyum tulus- tapi ia tak membalas senyumku. Ia hanya menatapku tajam. "Aku mau bicara De." ucapnya sambil menariku ke atap sekolah. Aku hanya pasrah ditarik-tarik begitu olehnya.
Kami sampai di atap sekolah, aku langsung menghampiri salah satu bangku yang berada disana dan mendudukinya. Lucas menyusul, dan duduk disebelahku. "Mau ngomong apa?" tanyaku pura-pura tak tahu. "Kamu kenapa De?" tanya Lucas, membuatku bingung dibuatnya. "Aku? Aku ga kenapa-napa kok." jawabku keheranan. "Kamu kenapa ngejauh dari aku, dari Nanda, dari kita?" Ada perasaan tak senang ketika Lucas menyebutkan dia dan Nanda sebagai 'kita'. "Aku....aku.." ucapanku terbata. Sungguh, saat ini aku tak tahu harus menjawab apa. "Kalo kamu emang ga mau sahabatan lagi sama aku, Oke fine De, kita sampe sini aja." Lucas memotong ucapanku, dari intonasinya, aku tahu ia marah. Ia lalu berbalik pergi meninggalkanku sendirian di atap. Aku menatap dengan nanar kepergiannya, tapi aku hanya diam. Tidak mencoba mengejarnya. Ketika akhirnya ia benar-benar pergi, aku terdiam, mencoba menikmati udara senja yang berbeda. Dan ketika aku mengadah menatap langit, bulir-bulir air menerpa wajahku. Hujan menemaniku melepas kepergiannya. Sungguh dramatis bukan?
dramatis gin :D
BalasHapusAhaha, agak lebay yah? :o
BalasHapusAhaha, agak lebay yah? :o
BalasHapus